TNI Redam Gerakan OPM dengan Humanis dan Budaya

Sabtu , 18 November 2017 11:35

Penulis : Letkol Inf Drs. Solih (Kasubbidstrakomnet Puspen TNI)
Editor : Abdul Gafar Syam Mattola

Penulis, Letkol Inf Drs. Solih (Kasubbidstrakomnet Puspen TNI).

LINTASTERKINI.COM - Dalam sepekan ini, aksi kekerasan di Papua kembali meningkat. Sebanyak 1.300 warga Papua di Desa Kimbely dan Desa Banti, Kecamatan Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua disandera oleh kelompok bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM). Aksi OPM ini selalu datang menjelang hari manifesto Kemerdekaan Papua yang jatuh 1 Desember 2017 yang juga Hari Ulang Tahun OPM.

Gerakan Organisasi Papua Merdeka yang sering disebut dengan OPM dan KKB, yaitu organisasi yang didirikan pada tahun 1965. Organisasi ini merupakan organisasi ilegal dan dilarang oleh negara karena memiliki ideologi berbeda dan bermaksud melepas Papua dari bingkai NKRI.

Tujuan utama dibentuk Organisasi ini adalah ingin melepas Papua dari Indonesia dan ingin merdeka sendiri. Tentu itu bukanlah tujuan yang baik karena sudah jelas menurut sejarah dan UU yang berlaku bahwa Papua adalah sah bagian dari NKRI itu mutlak dan harga mati.

Keberadaan OPM di Papua kini sudah sedikit memudar karena seiring perkembangan zaman dan sudah banyak masyarakat Papua yang sudah cerdas dan tidak lagi mudah untuk dibodohi atau ditipu oleh ocehan dan rayuan-rayuan tidak logis dari pihak OPM terutama OPM yang menetap di luar negeri.

Menurut catatan penulis ada beberapa organisasi yang berada dalam kategori OPM yang bermukim diluar negeri, organisasi OPM sebagian  berada di Papua. Ada West Papua National Council (WPNCL) pimpinan Andy Ayamiseba di wilayah Pasifik Selatan, ada Free West Papua Campaign (FWPC) pimpinan Benny Wenda di beberapa negara di Eropa, ada West Papua National Authority (WPNA) pimpinan Jacob Rumbiak di Australia.

Organisasi sayap OPM di luar negeri yang lain seperti ada KNPB (Komite Nasional Papua Barat) dan ada NRFPB (Negara Republik Papua Barat) di Papua serta kelompok-kelompok lainnya yang lebih kecil. Namun yang berada di Papua hanya garis militer sebagai kelompok pengacau, tugasnya hanya mencari perhatian seperti penembakan warga sipil dan tidak segan segan juga menembaki TNI/Polri, menculik, menyandera dan demo anarkis.

Aksi tersebut tidak lain adalah perintah dari OPM yang berada di luar Papua. Dulu didengungkan oleh OPM masalah ketimpangan kehidupan sosial masyarakat antara Papua dengan daerah lain dikedepankan. Hal itu tidak mendasar karena Pemerintah sekarang sudah membangun infrastruktur di Papua, termasuk jalan darat sudah ada dan sudah menghubungkan dari satu daerah ke daerah lainya di Papua.



loading...

Berikan Komentar Anda

IKLAN BARIS
Ingin Beriklan Baris Dengan Kami Email Kami Di iklan@lintasterkini.com
  • As-Syifa Multi Teknik

    Menerima, pasang CCTV, PABX, Sound System, Fire Alarm, Instalasi Listrik, P.Signal, Data/LAN dan Wifi. hubungi : 085342484643

  • INGIN URUS STNK ATAU BPKB DENGAN CEPAT? HUBUNGI 08124269685

  • MAU PESAN HORDEN UTK RUMAH TANGGA ATAU KANTOR DENGAN HARGA MURAH, HUBUNGI 085242122445