Anomie Kekerasan Remaja di Pinrang dalam Perspektif Kriminologi

Selasa , 29 November 2016 22:05

Penulis : Nur Amin Saleh, S.Psi, MH. (Kadiv Kampanye, Kajian dan Penguatan Organisasi PBHI wilayah Sulawesi Selatan)
Editor : Abdul Gafar Mattola

Penulis : Nur Amin Saleh, S.Psi, MH. Kadiv Kampanye, Kajian dan Penguatan Organisasi PBHI wilayah Sulawesi Selatan

LINTASTERKINI.COM – Pergeseran paradigma perempuan telah menghantarkan analisis pada titik klimaks. Dari sisi historis, peran perempuan secara universal terkerangkeng oleh tatanan nilai yang membatasi ruang gerak dalam berekspresi, di tambah dominasi sistem sosial kebudayaan yang dinilai menempatkan perempuan pada strata kedua sehingga tidak jarang menjadi objek kekerasan.

Seiring interns anomie perubahan sosial yang terjadi pasca perang dunia II, gerakan perempuan di belahan barat dunia semakin progress mendorong semangat kesetaraaan gender dalam multi dimensi. Hal ini berdampak sistemik pada prototypes perempuan yang tidak dapat lagi di pandang lemah dan strata rendah.

Sebab dalam perspektif kriminologi, hari ini perempuan tidak lagi dominan menjadi objek kejahatan, tetapi telah turut menjadi pelaku pada banyak kejahatan. Dalam social theory of crime, kejahatan yang dilakukan perempuan tidak mutlak lagi dimotori dari permasalahan gender, melainkan adanya kombinasi dari berbagai aspek, seperti pengaruh kebudayaan, perkembangan globalisasi, distorsi tatanan sosial, pengaruh keluarga dan lingkungan sosial kelompok negative self concept yang memicu sikap agresif dan main hakim sendiri.

Emile Durkheim (1917) memandang ini sebagai anomie, yaitu suatu kondisi atau keadaan yang ada dalam masyarakat dimana sebuah masyarakat berubah dari tradisional ke modern, teknologi dan perubahan sosial. Anomie adalah kondisi normlessness dalam arti sebuah dimana norma-norma dalam masyarakat kehilangan makna dan tidak berfungsi pada banyak orang. Sebagai akibatnya muncul banyak beragam kejahatan.

Sinkronisasi dari social theory of crime, teori anomie dan kasus kekerasan remaja yang terjadi di pinrang yang baru-baru ini menjadi viral di media sosial tentunya menjadi satu kasus yang mesti menjadi perhatian khusus. Sebab tidak sekedar mengulas implikasi sanksi pidana pelaku kekerasan

terhadap remaja di Pinrang yang dijerat Pasal 170 KUHP dan UU ITE Pasal 27ayat 3 Nomor 11/2008, tetapi korban juga masih berada dalam perlindungan UU Nomor 35/2014 tentang Perubahan atas UU Nomor 23/2002 tentang Perlindungan Anak.

Sehingga setiap permasalahan kekerasan masalah anak dan perempuam mesti mendapat perhatian khusus dan serius. Sebab, sejatinya kasus serupa dengan kekerasan remaja perempuan di pinrang ini telah menjadi fenomena ‘gunung es’ dalam ruang-ruang behaviour remaja perempuan di Indonesia, tiap tahun angka kekerasan terhadap perempuan dan anak tidak menunjukkan penurunan secara positif.

Sehingga, menyikapi permasalahan kekerasan anak dan perempuan agar tidak terulang lagi, diharapkan komnas perlindungan anak dan perempuan mesti merevitalisasi peran dalam upaya penanggulangan kekerasan anak dan perempuan dengan aktif dalam pemberian pendidikan moral, tidak hanya bersikap dan bertindak ketika telah terjadi kekerasan.

Termasuk bersikap reaktif pendampingan terhadap korban yang mesti mendapatkan rehabilitasi sebagai upaya pemulihan mental dan psikologis guna menghindari dampak traumatik dan negative terhadap masa depan korban. (*)

Penulis :

Nur Amin Saleh, S.Psi, MH.
Kadiv Kampanye, Kajian dan Penguatan Organisasi
PBHI wilayah Sulawesi Selatan

loading...

Berikan Komentar Anda

IKLAN BARIS
Ingin Beriklan Baris Dengan Kami Email Kami Di iklan@lintasterkini.com
  • As-Syifa Multi Teknik

    Menerima, pasang CCTV, PABX, Sound System, Fire Alarm, Instalasi Listrik, P.Signal, Data/LAN dan Wifi. hubungi : 085342484643

  • INGIN URUS STNK ATAU BPKB DENGAN CEPAT? HUBUNGI 08124269685

  • MAU PESAN HORDEN UTK RUMAH TANGGA ATAU KANTOR DENGAN HARGA MURAH, HUBUNGI 085242122445