Logo Lintasterkini

YPN Kembangkan Pengelolaan Sampah Organik di Makassar Lewat Maggot

Budi S
Budi S

Sabtu, 06 Maret 2021 13:59

Direktur YPN, Saharuddin Ridwan
Direktur YPN, Saharuddin Ridwan

MAKASSAR – Yayasan Peduli Negeri (YPN) terus melakukan pengembangan pengelolaan sampah melalui teknologi tepat guna.

Di Makassar, YPN telah berhasil mengembangkan ratusan Bank Sampah Unit (BSU) yang dikelola langsung oleh masyarakat. Manfaatnya bernilai ekonomi.

Seiring dengan itu, YPN kini melakukan eksperimen atau uji coba pengelolaan sampah organik dengan cara yang begitu sangat sederhana. Melalui budidaya maggot.

Maggot sendiri merupakan larva lalat Black Soldier Fly (BSF). Bentuknya menyerupai ulat. Tetapi sangat bermanfaat. Mampu mengurai sampah organik dengan sangat cepat dalam jumlah besar.

Begitu yang dijelaskan Direktur YPN, Saharuddin Ridwan saat ditemui di kantornya, Jalan Anggrek, Kecamatan Panakkukang, Makassar, Kamis (04/03/2021).

“Saat ini, memang di Kota Makassar baru kita kembangkan di YPN dengan melibatkan teman-teman di sini. Dan ternyata sudah banyak teknologi tepat guna yang dilakukan selama ini di Makassar. Dan ini salah satu alternatif yang sangat luar biasa. Karena semua sisa-sisa makanan yang kita hasilkan setiap hari bisa dikelola maggot,” tutur Sahar sapaan akrabnya.

Menurutnya, sampah dari sisa makanan setelah dicerna oleh maggot secara alami dapat menghasilkan pupuk organik yakni kompos.

Selain itu, maggot juga memiliki protein yang sangat tinggi untuk dijadikan pakan hewan lainnya. Seperti ikan lele, ayam dan burung.

“Bahkan waktu saya ke Korea, ketika maggot diperas menghasilkan minyak.Ternyata minyaknya itu bisa jadi sabun kecantikan. Dan itu (harga) sabun di Korea sangat mahal. Juga (maggot) bisa dibuat vitamin di Korea untuk binatang sejenis reptil, kucing dan anjing,” kata Sahar.

Sebagai langkah awal, YPN telah memberdayakan delapan unit bank sampah di kota berjuluk Anging Mammiri ini.

Nantinya, akan dikembangkan dengan melibatkan masyarakat dan pihak swasta yang ingin mendukung upaya pengurangan timbulan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

“Pengembangannya kita masih uji coba. Karena alat dari Korea itu sudah datang tinggal kita pasang. Dan itu untuk sementara hanya di wilayah Kecamatan Tamalanrea dan Biringkanaya,” ucap Sahar yang juga Ketua Asosisasi Bank Sampah Indonesia (Asobsi).

“Di Paccerakkang itu (sementara), mampu mengelola satu sampai dua ton per hari. Kita sudah survei. Dan nanti sampah-sampah organik dari hotel, rumah makan, restoran akan dikelola. Masyarakat bisa mengelola secara mandiri. Untuk sementara, telurnya kita kasih secara gratis,” lanjut Sahar menambahkan.

Bagi dia, pengembangan teknologi tepat guna ini begitu potensial. Sebab mampu mengelola 58 persen sampah organik yang ditimbulkan masyarakat setiap harinya.

Yayasannya sendiri telah mencatat, jumlah sampah yang dihasilkan masyarakat se-Kota Makassar mencapai 1.150 ton per hari.

“Dari total itu, 58 persen adalah sampah organik. Itulah potensi yang akan kita kelola. Kenapa TPA Antang mengeluarkan bau tak sedap, karena semua sampah organik dibuang di sana. Padahal sebetulnya bisa dikelola menjadi sesuatu yang berguna,” pungkasnya.

SIKLUS dan BUDIDAYA MAGGOT

Sahar sedikit menjelaskan bagaimana cara membudidayakan maggot. Yang menurutnya, itu tidak begitu rumit.

Berdasarkan siklusnya, maggot berasal dari lalat BSF. Jika ingin dibudidayakan, terlebih awal dikawinkan. Buah dari perkawinan itu, akan menghasilkan telur yang bereproduksi hanya lima hari.

“Telur inilah yang sebetulnya mahal. Mungkin teman-teman pernah mendengar Menteri Pertanian RI soal ekspor telur maggot. Inilah yang dimaksud telur seperti ini,” kata Sahar sambil memperlihatkan gumpalan telur yang melekat di batang kayu.

“Ini saja (telur satu gumpalan kecil), bisa menghasilkan ratusan maggot,” lanjutnya.

Sahar kembali melanjutkan, telur yang dihasilkan dari buah perkawinan lalat BSF itu akan menjadi bayi larva maggot. Setelah itu, tumbuh menjadi maggot dewasa. Ketika mati akan menjadi kupat. Lalu kupat kembali menjadi lalat BSF.

“Bayi larva (maggot) inilah yang kita masukkan ke dalam wadah (tempat) bersama dengan sampah organik. Jadi memang maggot ini mengisap sari-sari makanan begitu cepat. Ikan saja kita uji coba, habis dalam 15 menit,” tutup Sahar.

 Komentar

 Terbaru

Sinyal Pergantian Seluruh Direksi Perusda di Makassar Menguat
Pemerintahan20 April 2021 20:44
Sinyal Pergantian Seluruh Direksi Perusda di Makassar Menguat
Konstribusi perusda masih rendah terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD). Sehingga perlu penyegaran. Diawali dengan tahap evaluasi kinerja seluruh direk...
Mensos Santuni Korban Bom Gereja Katedral Makassar
News20 April 2021 20:12
Mensos Santuni Korban Bom Gereja Katedral Makassar
Dalam keterangannya, Risma menyebut, jika kondisi tiga korban mulai membaik. Hanya saja masih membutuhkan perawatan lanjutan....
6 Imigran di Makassar Diamankan Provokasi Larangan Berkendara
News20 April 2021 19:41
6 Imigran di Makassar Diamankan Provokasi Larangan Berkendara
Peran keenam Imigran tersebut sebagai provokator. Berupaya menghalang-halangi petugas saat hendak mengamankan motor di Wisma KPI....
Kenalan di Facebook, Reza Ditembak Usai Tipu dan Cabuli Pelajar Asal Gowa
Hukum & Kriminal20 April 2021 17:17
Kenalan di Facebook, Reza Ditembak Usai Tipu dan Cabuli Pelajar Asal Gowa
Kasus ini berawal dari pertemuan korban dan pelaku Reza di Facebook, beberapa waktu lalu....