Logo Lintasterkini

A’Dinging-Dinging Bagian Sakral Kehidupan Masyarakat Tenro

Muh Syukri
Muh Syukri

Kamis, 07 Februari 2013 07:45

Kemeriahan Prosesi A'Dinging-Dinging di Desa Bontolempangang
Kemeriahan Prosesi A'Dinging-Dinging di Desa Bontolempangang

Kemeriahan Prosesi A’Dinging-Dinging di Desa Bontolempangang

SELAYAR – Tradisi A’dinging-dinging merupakan warisan kebudayaan turun-temurun di kalangan masyarakat Kampung Tenro, Desa Bontolempangang, Kecamatan Buki, Kabupaten Kepuluan Selayar, Sulawesi Selatan. Ritual A’dinging-dinging digelar pada setiap hari senin terakhir di bulan Muharram dalam rangkaian untuk memperingati hari lahirnya Kampung Tenro. Prosesi ini diawali dengan ritual tolak bala yang dilaksanakan pada setiap tanggal sepuluh di bulan Muharram.

Selanjutnya, digelar pula rangkaian ziarah ke makam tua yang terletak, di ex. Kompleks kampong Buki Tua. Sebuah bekas perkampungan yang secara administratif masih berada di wilayah kampung Bo’dia, sekarang, DusunTenro. Rangkaian ziarah kemakam para pendahulu ini digelar sebagai wujud penghargaan dan penghormatan terhadap arwah para leluhur.

Sebagai bentuk kesempurnaan dari prosesi A’dinging-dinging warga masyarakat yang terdiri dari sembilan orang wanita dan dua orang bocah penabuh gendang akan diberangkatkan menuju ke Buhung Latea untuk mengambil air suci dengan menggunakan wadah bengki. Buhung Latea sendiri merupakan sebutan untuk sumur batu di Dusun Tanabau Tenro yang menjadi pusat ritual pengambilan air suci.

Menurut penuturan, H. Lakka, “Buhung Latea tercipta dari segenggam mata air yang dipindahkan dari sumur Tenro dengan menggunakan genggaman tangan”. Selama berlangsungnya ritual pengambilan air suci yang mulai digelar sejak dari pukul 14.00 Wita itu para pelaku dilarang untuk bicara sepatah kata pun. Hanya suara gendang yang terdengar mengiringi upacara sakral ini.

Iringan gendang akan terus ditabuh, sampai para pelaku ritual tiba kembali di kampung dengan membawa tujuh buah wadah bengki berisi air suci. Sementara itu, mengiringi langkah para pelaku ritual pada barisan terdepan diposisikan seorang wanita pembawa dupa. Setibanya di kampung, wadah bengki kemudian diletakkan di lantai rumah kayu tempat akan digelarnya ritual pembuatan dan pengisian mantera-mantera ke dalam wadah bengki berisi air suci.

Sebelum diletakkan, wadah penampungan air menyerupai gentong berbahan baku tanah liat ini terlebihdahulu diberikan alas daun pisang. Setelah disemayamkan selama kurang lebih lima jam baru pada malam harinya digelar ritual pengisian mantera-mantera oleh dua orang pelaku pembuat air suci yang terdiri dari seorang lelaki dan perempuan berpakaian adat.

Mengawali rangkaian upacara sakral tersebut terlebih dahulu dilakukan pembakaran dupa yang ditandai dengan tabuhan gendang oleh dua orang bocah laki-laki. Melengkapi kesakralan ritual pembuatan dan pengisian mantera-mantera dihadirkan pula dua buah wadah pa’du pa’ang berisi kemenyam, daun sirih, dan padi sangrai.

Selain itu, ditampilkan pula sejumlah wanita berbusana adat baju bodo dari arah pertengahan rumah dengan membawa selembar kain panjang yang selanjutnya dibentangkan di tengah-tengah pelaku pembuat air suci sembari berkeliling dan melantunkan tujuh buah syair lagu dide’.Kemudian, tidak jauh dari tempat duduk para tokoh masyarakat dan aparat pemerintah, terdapat sebuah meja berisi sejumlah piring kecil berisikan : buah pisang, tebu, kulit jagung berisi tembakau, padi sangrai, dan lipatan daun sirih beralaskan dua buah bantal kepala, serta sebuah payung yang di pasang pada bagian atas meja untuk menaungi piring-piring yang berada di bawahnya.

Di samping meja, terdapat buah kelapa muda berwarna merah yang pada bagian atas dan sisi kiri-kanannya diberi hiasan daun sirih, bungan kayu karaeng, buah tebu, dan pisang masak. Memasuki pertengahan malam, para pelaku ritual secara bergantian akan melemparkan padi sangrai ke arah tamu yang hadir dalam ritual itu.

Setelah sebelumnya, mulut dua orang pelaku ritual pembuatan air suci tak pernah berkomat-kamit membaca mantera-mantera disertai pembacaan doa kehadirat Allah SWT sebagai akhir dari rangkaian ritual. Ritual pembuatan air suci baru resmi berakhir setelah salah seorang sesepuh masyarakat masuk ke tengah-tengah pelaku ritual dan menyalami para pelaku ritual dengan sejumlah rupiah sebagai simbol rasa kesyukuran dan bentuk penghargaan perwakilan warga masyarakat atas berjalan lancarnya seluruh rangkaian acara.

Pasalnya, ritual seperti ini tak jarang diwarnai oleh orang kesurupan, pingsan, hingga akhirnya, tidak sadarkan diri. Dari penuturan sesepuh masyarakat setempat diketahui proses kesurupan biasanya akan bermula dari tingkah laku atau perbuatan segelintir warga masyarakat yang dinilai melanggar nilai-nilai adat dan asas kepatutan yang berlaku di KampungTenro.

Diakhir acara, digelar permainan ketangkasan mancapa’dang, permainan domino, a’tojeng, dan penampilan tradisi dide’. Keesokan harinya, air suci dan seluruh bentuk sesaji diangkat dan dipindahkan ke sejumlah lokasi yang akan menjadi tempat digelarnya prosesi anrio-rio. Sesaji berupa buah pisang, daun sirih, tebuh, padi sangrai, kelapa muda merah, telur dan sesaji lain ditempatkan di tiga titik berbeda diantaranya, makam Opu Bakka Tenro, Dg. Lempangang, Krg. Langkasa, dan lokasi lain yang oleh masyarakat setempat diistilahkan dengan, Pa’ Opu-Opuang, serta Possina Tanaiya.

Prosesi anrio-rio diawali dengan budaya mengupas tobo muda yang sesekali diwarnai oleh teriakan histeris sejumlah warga masyarakat sebagai bentuk puji-pujian kepada pemilik makam sembari berkeliling, selama tujuh kali. Usai mengelilingi lokasi makam dengan melantunkan syair lagu dide’ pelaku ritual anrio-rio, berjalan kearah lokasi pa’opu-opuang yang telah di beri ornament hiasan berupa lengkungan nyiur berdaun muda lengkap dengan sesaji berupa : nasi, telur, dan cucur yang dipersembahkan untuk arwah pemilik makam.

Setelah itu, para pelaku anrio-rio, kembali berjalan kaki menuju keujung kampung, tempat diletakkannya sesaji lain. Sekembalinya dari ujung kampong, barulah acara inti anrio-rio digelar secara resmi dengan iringan lagu dide’ dan tabuhan gendang. Budaya anrio-rio ini sendiri diyakini warga masyarakat setempat sebagai ritual pengobatan berbagai jenis penyakit non medis melalui perantara doa dari pelaku anrio-rio bernama Dg.Tallasa.

Biasanya ritual ini diakhiri dengan pagelaran manca pa’dang, a’tojeng, dan jamuan makan siang bagi paratamu-tamu undangan kehormatan seperti pejabat daerah dan tamu-tamu lain dari luar kampung. (fadly syarif)

 Komentar

 Terbaru

Peristiwa20 Mei 2022 02:24
Lansia Tewas Setelah Dipergoki Mencuri di Areal Tambang di Bantaeng, Tiga Polisi Diperiksa
Nasib malang menimpa seorang pria lanjut usia (lansia) bernama Nuru Saali (78) di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan (Sulsel). Kabarnya, ia tewas us...
News19 Mei 2022 23:55
Pelat Palsu Marak Beredar di Sulsel, Ada Pembiaran?
Aturan pemberlakukan tersebut memang sudah ada yakni mengacu pada Peraturan Polri (Perpol) Nomor 7 Tahun 2021 tentang Registrasi dan Identifikasi (Reg...
News19 Mei 2022 22:47
Bupati Pinrang Terpilih Memberikan Testimoni Di Rakornas BAN S/M
MAKASSAR — Bupati Pinrang, Irwan Hamid bersama Bupati Gowa dan Bupati Kapuas Provinsi Kalimantan Tengah diundang dan terpilih untuk memberikan t...
Hukum & Kriminal19 Mei 2022 22:43
Berdamai, Ini Syarat Yang Diajukan Pelajar Korban Penganiayaan Di Pinrang Yang Videonya Viral Di Medsos
PINRANG – Penganiayaan yang dilakukan seorang pelajar laki-laki SMA Negeri 9 Cempa Kabupaten Pinrang terhadap. seorang pelajar perempuan tyang t...