Logo Lintasterkini

Sebaiknya Batasi Waktu Bermain Internet pada Anak Agar Tidak Kecanduan

Muh Syukri
Muh Syukri

Jumat, 08 Oktober 2021 19:52

 Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” kembali dilaksanakan secara virtual di Maros, Sulawesi Selatan (8/10/2021), kali ini dengan membahas tema “Melindungi Anak dari Kejahatan Dunia Maya”.
Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” kembali dilaksanakan secara virtual di Maros, Sulawesi Selatan (8/10/2021), kali ini dengan membahas tema “Melindungi Anak dari Kejahatan Dunia Maya”.

MAROS – Rangkaian Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” kembali dilaksanakan secara virtual di Maros, Sulawesi Selatan (8/10/2021), kali ini dengan membahas tema “Melindungi Anak dari Kejahatan Dunia Maya”.

Rangkaian Program Literasi Digital ini diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia dan Siberkreasi bersama Dyandra Promosindo. Kolaborasi ketiga lembaga ini dikhususkan pada penyelenggaraan Program Literasi Digital di wilayah Sulawesi.

Acara hari ini dipandu oleh Afif selaku moderator serta menghadirkan empat narasumber, di antaranya Alfiansyah selaku dosen IAIN Parepare, Gadis Maharani selaku pemengaruh (influencer), Yoseph Ikanubun selaku jurnalis, dan Hajriana Ashadi selaku Komite Perlindungan Jurnalis dan Kebebasan Berekspresi. Pada kegiatan kali ini diikuti oleh 1123 peserta dari berbagai kalangan umur dan profesi.

Acara dimulai dengan sambutan berupa video dari Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, yang menyalurkan semangat literasi digital untuk kemajuan bangsa. Selanjutnya, sesi pemaparan materi dimulai dengan narasumber pertama, yaitu Alfiansyah yang membawakan tema “Keterampilan Digital dan Belajar Daring”. Alfi menuturkan bahwa anak-anak hari ini terlahir dengan lingkungan yang akrab dengan teknologi sehingga dalam kehidupannya sangat bergantung dan tidak lepas dari teknologi (digital native). Adapun karakteristik digital native, yakni cenderung aktif dalam mengemukakan identitas di dunia maya, berpikiran terbuka, suka kebebasan, serta ingin memegang kontrol terhadap suatu hal.

Selanjutnya, Gadis Maharani selaku pemateri kedua membawakan tema “Internet Aman untuk Anak di Bawah Umur dan Remaja”. Gadis mengungkapkan, salah satu dampak positif internet adalah mempermudah komunikasi tanpa biaya yang besar. Di sisi lain, internet juga dapat membuat anak melihat hal negatif seperti pornografi. “Kerusakan otak akibat kecanduan pornografi lebih berat dibandingkan kejenuhan lainnya karena tidak hanya mempengaruhi fungsi otak, tetapi juga merangsang tubuh, fisik, emosi, serta perilaku seksualnya,” tambah Gadis seraya mengutip salah satu ucapan dari dokter ahli bedah, yaitu Mr. Donald L. Hilton. “Tahapan dari efek pornografi adalah adiksi, eskalasi, desentisasi, dan act-out,” terangnya.

Yoseph Ikanubun sebagai pemateri ketiga menyampaikan presentasi “Literasi Digital bagi Tenaga Pendidik dan Anak Didik” oleh. Yoseph memaparkan, pendidikan di era digital yang juga dipicu pandemi Covid-19 telah mengubah kondisi pembelajaran dari luring menjadi daring. Karenanya, pendidik harus mampu menguasai teknologi digital agar dapat mengajar secara daring. Pendidik harus menguasai aplikasi yang mendukung pembelajaran atau mengikuti kursus dan pelatihan mengenai pengajaran berbasis teknologi. “Selain itu, siswa juga harus proaktif mencari sumber informasi yang valid terkait bahan pembelajaran dan cara berinternet,” tuturnya.

Adapun pemateri terakhir adalah Hajriana Ashadi yang mengusung presentasi “Tips Menjaga Keamanan Digital Anak di Dunia Maya”. Hajriana mengatakan, tantangan internet bagi orang tua di antaranya kemudahan dan kebebasan dalam mengakses internet serta anak yang lebih mengerti teknologi dibandingkan orangtuanya. Ia juga menyampaikan ciri-ciri anak kecanduan internet, yaitu banyak bermain media sosial dan gim. “Untuk mencegahnya, orangtua harus mendampingi anak. Batasi waktu berinternet dan berikan akses anak kepada aplikasi yang sesuai dengan usianya,” pesan dia.

Selanjutnya, moderator membuka sesi tanya jawab yang disambut meriah oleh para peserta. Selain bisa bertanya langsung kepada para narasumber, peserta juga berkesempatan memperoleh uang elektronik masing-masing senilai Rp100.000 bagi 10 penanya terpilih.

Salah seorang peserta, Anisa Putri, bertanya mengenai bagaimana tanggapan Alfi terhadap orangtua yang tidak memberi batasan anak bermain gawai. Menurut Alfi, orangtua tetap harus memberi batasan waktu kepada anak agar tidak kecanduan dalam berinternet.

Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi akan diselenggarakan secara virtual mulai Mei 2021 hingga Desember 2021 dengan berbagai konten menarik dan informatif yang disampaikan narasumber terpercaya. Bagi masyarakat yang ingin mengikuti sesi webinar selanjutnya, silakan kunjungi https://www.siberkreasi.id/ dan akun sosial media @Kemenkominfo dan @siberkreasi, serta @siberkreasisulawesi khusus untuk wilayah Sulawesi. (*)

 Komentar

 Terbaru

Nasional16 Oktober 2021 16:26
Kabar Gembira! Pemerintah Bakal Beri Kado untuk Para PNS di Tahun 2022, Cek Disini
JAKARTA– Kabar gembira datang buat para Pegawai Negeri Sipil (PNS). Pasalnya, tahun 2022 para aparatur negeri sipil bakal tetap mendapatkan boos...
News16 Oktober 2021 16:04
Di Tahun 2022, Bandara Selayar Rencana Dikembangkan Runway Jadi 2.400 Meter
SELAYAR– Bandara Udara H Aroeppala di Kabupaten Kepulauan Selayar direncanakan akan dikembangkan di tahun 2022 dengan penambahan runway. Penamba...
Gaya Hidup16 Oktober 2021 13:43
Rata-rata Perempuan Tulisannya Lebih Bagus Dibanding Laki-laki, Ternyata Ini Alasannya
Sejak kecil, saat masih duduk di sekolah dasar, bisa dikatakan tulisan tangan yang indah dari perempuan unggul jauh dibanding dengan laki-laki. Tulisa...
Nasional16 Oktober 2021 13:31
PON Papua Berakhir: Jabar Berhasil Jadi Juara Umum, Sementara Sulsel Finis Diperingkat ke-11
JAYAPURA– PON XX Papua berakhir hari ini, Jumat (15/10/2021). Sebanyak 681 nomor pertandingan telah diselesaikan. Hasilnya, Papua dan Jawa Barat...