Penembak Fathir Masih Misterius

Penembak Fathir Masih Misterius

Fathir Muhammad (13 bulan)-kanan, berfoto bersama sang bunda.

JAKARTA – Kasus tewasnya Fathir (14 bulan) karena terkena peluru nyasar di rumah, Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (1/2/2013) lalu, belum terungkap. Lambannya kinerja aparat kepolisian membuat keluarga kian bertanya-tanya, siapa pelaku penembakan yang menewaskan putra bungsunya tersebut.

Saat menggelar testimoni kepada wartawan di Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), Rabu (13/3/2013) siang, Fikar (23) dan Nur Hikmah (24), orangtua Fathir, mengaku sama sekali tidak memiliki kecurigaan terhadap siapa pelaku penembakan itu. Sebab, pada saat kejadian, situasi di sekitar rumah tengah dalam kondisi kondusif dan tak dalam situasi keributan.

“Untuk menunjuk ke pelaku atau instansi tertentu, kami belum tahu dan belum berani mengatakannya, apakah benar. Kita serahkan semuanya kepada kepolisian,” ujar Fikar.

Fikar melanjutkan, usai kejadian berlangsung, beberapa anggota TNI datang ke rumahnya di Jalan Baji Gau Raya, Nomor 3F, Mamajang, Makassar, Sulawesi Selatan. Kedatangan TNI, cukup beralasan lantaran rumahnya hanya berjarak sekitar 10 meter dari Asrama TNI.

Tak ada yang dibicarakan anggota TNI itu saat di rumahnya. Anggota TNI itu hanya melakukan cek tempat kejadian perkara terkait darimana arah datangnya peluru serta menanyakan kronologis kejadian tragis itu.

Adapun, Fathir telah dibawa ke Rumah Sakit Haji Makassar oleh orangtuanya. Yang lebih menyakitkan hati keluarga, kepolisian diketahui baru datang untuk melakukan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) satu minggu kemudian saat kasusnya sudah ramai di media massa lokal.

Hingga saat ini, orangtua Fathir baru diperiksa dua kali oleh Kepolisian Sektor Mamajang, instansi yang menangani kasus tersebut.

Ketua Komnas PA, Arist Merdeka Sirait mengatakan, kuat dugaan peluru tersebut berasal dari lingkungan TNI. Terdapat beberapa kemungkinan yang mengarah ke dugaan tersebut.

Pertama, jenis peluru yang telah teridentifikasi yakni kaliber 30 mm yang biasa digunakan oleh senjata yang dikeluarkan oleh pabrik tertentu. “Nampaknya begitu. Entah disengaja atau tidak. Karena menurut orangtua korban tidak ada orang lain yang berada di sekitar situ,” ujarnya.

Arist menegaskan, kepolisian harus bekerja sesuai dengan azas profesionalisme dan tak pandang bulu dalam mengurus sebuah kasus. Komnas PA telah menyurati kasus itu ke Kapolda Makassar untuk mendorong agar penyelidikan kasus tersebut segera terungkap.

Fathir, putra bungsu dari tiga bersaudara buah hati pasangan Fikar (23) dan Nur Hikmah (24), warga Jalan Baji Gau Raya, Nomor 3F Mamajang, Makassar, Sulawesi Selatan, meninggal dunia, Kamis (7/3/2013). Bayi 14 bulan tersebut menjadi korban peluru nyasar di rumah.

Kejadian itu bermula pada Jumat (1/2/2013), saat Fathir tengah bermain dengan kakaknya, Putra (2) dan Fadel (4), di ruang televisi rumah. Tiba-tiba, terdengar suara letusan berasal dari luar rumah.

Sang ibu sempat mengira suara itu adalah lampu yang meletus hingga ia panik lantaran melihat kepala Fathir mengucurkan darah segar. Bayi malang tersebut pun dibawa ke rumah sakit. Namun, karena peralatan rumah sakit minim, ia sempat berpindah-pindah hingga berakhir pada akhirnya dirawat di RSUP Wahidin Sudirohusodo.

Fathir sempat menjalani operasi pengangkatan proyektil peluru yang mengenai otaknya. Namun, usai proyektil diangkat, kondisinya kian menurun hingga akhirnya Fathir menghembuskan nafas terakhirnya.

Meski kasus itu ditangani langsung oleh tim gabungan dari TNI Kodam Wirabuana dan Polri, hingga kini, kasus peluru nyasar itu belum terungkap. (kpc)