Logo Lintasterkini

Ahli Epidemiologi Sarankan Sulsel Pertimbangkan Opsi PSBB

Andi Nur Isman
Andi Nur Isman

Kamis, 24 Juni 2021 15:28

Ahli Epidemiologi Unhas Prof Ridwan Aminuddin.
Ahli Epidemiologi Unhas Prof Ridwan Aminuddin.

MAKASSAR — Ahli Epidemiologi Universitas Hasanuddin (Unhas), Prof Ridwan Aminuddin meminta pemerintah mempertimbangkan opsi Pemabatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Menyusul meningkatnya kasus Covid-19 secara nasional.

Dia menyampaikan wacana PSBB khususnya di Sulsel perlu menjadi pertimbangan. Apalagi Sulsel baru saja memperoleh predikat zona hijau setelah diasasmen oleh Kementrian Kesehatan.

“Untuk Sulsel penerapan PSBB harus diterima sebagai suatu upaya untuk tingkatkan kedisiplinan warga, untuk tetap patuh pada protokol kesehatan. Termasuk melakukan pembatasan perjalanan,” katanya, Kamis (24/6/2021).

Pemerintah, kata dia, perlu mengatensi wilayah-wilayah dengan penularan yang tinggi. Kunjungan dari daerah-daerah perlu ditutup agar zona hijau Sulsel tak lagi naik menjadi zona merah.

“Sebenarnya poin pentingnya untuk mengurai penularan yang tinggi di pulau Jawa. Nasional kan kasusnya di 14.000-an, nah ini sangat tinggi dan tidak menutup kemungkinan kasus ledakan pulau jawa berdampak ke luar pulau jawa. Itu bisa saja ke Sulsel,” ujarnya.

Selain itu, pemerintah perlu mengambil tindakan untuk memperketat pintu-pintu masuk. Masyarakat yang masuk utamanya dari daerah zona merah perlu dimonitor dengan baik.

Jika memiliki gejala-gejala khas Covid-19, mereka wajib diperiksa dan diminta untuk tidak melakukan kontak dengan orang lain sampai batas waktu yang ditentukan.

Bandara juga perlu bertindak dengan memberikan kartu khusus monitoring. Hal ini untuk memudahkan daerah-daerah dalam melakukan pengawasan.

Ridwan memperingatkan pemerintah bahwa varian baru yang ada di pulau Jawa patut diwaspadai. Tingkat penularan varian tersebut diklaim dapat mencapai 60- 70 persen lebih tinggi.

“Kita anggap saja seluruh pulau Jawa episentrum, itu artinya semua penerbangan dari Jawa itu semestinya sulsel lakukan antisipasi pelaku perjalanan dari wilayah tersebut,” tuturnya.

Dia juga mengatensi Kota Makassar sebagai ibu kota provinsi. Kota Makassar dianggap paling potensial sebagai awal mula ledakan kasus lantaran tingginya mobilitas warga.

Dia mengatakan pemerintah kota perlu bertindak cepat untuk mengantisipasi kasus, utamanya varian baru.

Peningkatan saat ini tidak boleh disepelekan, Pemerintah perlu meningkatkan kapasitas pelacakannya, kapasitas laboratorium, hingga kapasitas terapi untuk pasien.

Apalagi penganggaran dari pusat ke Makassar tergolong tinggi tercata penganggarannya menjadi tertinggi ketiga secara nasional.

“Makassar mendapatkan dana yang cukup besar no 3 nasional dalam budgetting dari Bappenas. Itu langkah bagus untuk tingkatkan kapasitas tracing, kapasitas lab, kapasitas pelacakkan kapasitas terapi untuk pasien Covid,” imbuhnya.(*)

 Komentar

 Terbaru

Nasional29 Juli 2021 17:47
Kopel Minta Setop Fasilitas Isoman bagi Anggota DPR
MAKASSAR — Fasilitas Isolasi Mandiri (Isoman) untuk anggota DPR yang terpapar Covid-19 disorot Komite Pemantau Legislatif (Kopel). Terlalu diistimew...
Hukum & Kriminal29 Juli 2021 17:33
Diduga Gegara Dendam, Seorang Warga Maroneng Pinrang Tewas Ditebas Parang
PINRANG –La Saleng, warga Desa Marineng Kecamatan Duampanua Kabupaten Pinrang tewas mengenaskan setelah ditebas senjata tajam jenis Parang oleh ...
Hukum & Kriminal29 Juli 2021 16:01
Saksi Sebut NA Tak Terlibat di Bantuan Dana CSR Masjid
"Selesai peletakan batu pertama, Saya makan siang bersama. Pak Petrus sampaikan bahwa dia sumbangkan Rp100 juta untuk masjid, Saya spontan bilang saya...
News29 Juli 2021 13:54
Gerakan Peduli PKL, Ditlantas Polda Sulsel Borong Dagangan dengan Harga 10 Kali Lipat
Aksi kepedulian ini di motori Kasubdit Regident Ditlantas Polda Sulsel AKBP M Yusuf Usman setelah mendapat instruksi langsung dari Dirlantas Polda Sul...