Logo Lintasterkini

Performa Impresif Ekonomi Indonesia

Muh Syukri
Muh Syukri

Senin, 17 Desember 2012 12:03

Ferry Ferdiansyah
Ferry Ferdiansyah

Ferry Ferdiansyah

Usia pemerintahan, di bawah kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) – Boediono telah memasuki usia lebih dari 3 tahun. Menyikapi kekuasaan selama tiga tahun ini, berbagai kalangan mengapresiasi sejumlah capaian di bidang makro ekonomi yang secara statistik terus meningkat. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pada 2009 pertumbuhan ekonomi Indonesia masih dikisaran angka 4,5%.

Namun, pada 2010 angkanya naik menjadi 6,1% lalu meningkat lagi menjadi 6,5% pada 2011. Angka kemiskinan secara statistik juga terus berkurang. Pada 2010, tingkat kemiskinan mencapai 13,33%. Namun, pada September 2011 angkanya turun menjadi 12,36% dan pada Maret 2012 berkurang menjadi 11,69% (sekitar 29,13 juta jiwa). Data BPS juga menunjukkan tingkat pengangguran terbuka yang pada Februari 2009 masih sebesar 8,14% turun pada Februari 2012 menjadi 6,32% atau sekitar 7,61 juta orang.
Pertumbuhan yang pesat di abad ini, menjadikan inspirasi yang menarik bagi lembaga penelitian bidang ekonomi dan bisnis asal Amerika, McKinsey Global Institute (MGI), belum lama ini menerbitkan hasil penelitiannya yang bertajuk “The Archipelago Economy: Unleashing Indonesia’s Potential”. Dalam laporan tersebut, MGI mengungkapkan bahwa Indonesia berpotensi menjadi negara dengan ekonomi terbesar ke-7 di dunia di tahun 2030, mengalahkan Jerman dan Inggris.

Chairman MGI Indonesia Raoul Oberman menempatkan perekonomian Indonesia diurutan ke 16 untuk kategori ekonomi terbesar di dunia. Dengan mengkategorikan kelas konsumen sebagai penduduk dengan pendapatan per kapita lebih besar atau sama dengan US $ 3.600Â pertahun.

Keberadaan Indonesia saat ini, bisa dikategorikan negara beruntung dibandingkan negara berkembang lainnya. Ketika negara-negara tersebut terpengaruh oleh krisis yang ditiup dari Eropa dan Amerika Serikat, ternyata Indonesia masih tetap berdiri kokoh. Untuk ukuran Indonesia dengan ekonomi US$ 850 ribu pertumbuhan 6,4% tergolong tinggi.

Faktor penopang pertumbuhan ini, dipengaruhi oleh dua faktor. Pertama, nilai investasi yang melebihi target. Nilai investasi Indonesia triwulan kedua tahun 2012 membukukan nilai tertinggi sepanjang sejarah. Pasalnya, krisis keuangan di Eropa membuat banyak investor asing lari ke Indonesia.

Kedua, Pertumbuhan yang tinggi tersebut tidak lepas dari peran masyarakat yang kontribusi konsumsi domestiknya mencapai 60 persen. Selain itu, adanya pertumbuhan harga konsumen yang stabil, daya beli konsumen yang menguat, serta kepercayaan bisnis, yang membantu meningkatkan permintaan domestik.

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat, realisasi investasi di Indonesia, baik penanaman modal dalam negeri (PMDN) maupun penanaman modal asing (PMA) pada triwulan kedua mencapai Rp76,9 triliun. Pasalnya, krisis keuangan di Eropa membuat banyak investor asing lari ke Indonesia. Pertumbuhan ekonomi nasional terus menujukkan tren positif di saat negara-negara lain masih dinaungi awan kelabu krisis global.

Dana Moneter Internasional atau “International Monetary Fund” (IMF) dalam pernyataanya mengatakan, Indonesia sekarang ini merupakan salah satu negara dengan kondisi perekonomian terkuat di antara negara-negara di ASEAN.

Pernyataan ini, berdasarkan proyeksi IMF, yang menjelaskan ekonomi Singapura dan ASEAN-5 (Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Pilipina), tumbuh sekitar 5,3 persen. Tahun ini saja, Pertumbuhan ekonomi Indonesia, tertinggi dibanding dengan negara-negara ASEAN seperti Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam. PDB Malaysia tahun 2011 adalah 5,2 persen, Filipina: 4,7 persen, Singapura: 5,3 persen, Thailand: 3,5 persen, dan Vietnam: 5,8 persen

Dari sisi investasi dan perdagangan, ASEAN juga terus mencatat tren kenaikan. Nilai investasi yang masuk ke AEAN ini pada 2009, tercatat 37,8 miliar dolar AS. Tahun 2010, nilai investasi naik hingga 100 persen menjadi USD 70,8. Seperempat nilai perdagangan dunia berlangsung di kawasan ASEAN, terbukti dari besarnya kontribusi perdagangan intra-ASEAN terhadap perekonomian global.

Pada 2010, kontribusi perdagangan intra-ASEAN terhadap ekonomi global sebesar 25,4 persen, naik dari 24,5 persen pada tahun 2009. Pangsa investasi FDI di ASEAN dibandingkan dengan investasi FDI global juga telah mengalami peningkatan signifikan selama masa krisis global yang dimulai sejak tahun 2008 lalu, yaitu dari 2,8 persen pada 2008, menjadi 3,6 persen (2009), dan meningkat 4,8 persen (2010).
Pada hal tahun 2003 lalu, ketika pimpinan ASEAN bertemu ekonomi ASEAN hanya sebesar 700 juta dolar Amerika. Saat ini nilai tersebut melonjak tajam menjadi 2,9 triliun dolar Amerika. Angka ini akan mengelembung secara drastis. Jika menggabungkan ASEAN dengan enam mitra yang sudah memiliki perjanjian perdagangan, yakni China, Jepang, Korea, India, Australia, dan Selandia Baru, maka jumlah tersebut menjadi 15 triliun dolar Amerika.

Angka ini bisa diterjemahkan menjadi kekuatan dan peluang yang ada di depan mata bagi Indonesia. Keuntungan bagi lainnya adalah dengan terbentuknya komunitas ASEAN, yang bertujuan untuk menghadapai persaingan ekonomi untuk menghadapai pesatnya ekonomi negara China dan India.

Pertumbuhan ekonomi nasional, terus menujukkan tren positif di saat negara-negara lain masih dinaungi awan kelabu krisis global. Penulis mempercayai, kerja ekstra tim ekonomi di bawah komando SBY- Boediyono ini lah yang menjadi kunci penentu keberhasilan pertumbuhan ekonomi nasional bertahan ditengah kepungan krisis global. Meskipun adanya kekhawatiran terhadap guncangan 2012. Kekhawatiran ini, akan menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi tim ekonomi.

Kekokohan ini menyebabkan banyak investor yang merelokasi investasinya ke negara yang memiliki ekonomi stabil. Saat ini, Indonesia menjadi negara urutan kedua terbaik di G20 dengan pertumbuhan enam koma emat persen. Apa lagi secara keseluruhan, perkiraan pertumbuhan GDP di Asia pada 2012 menurun sebesar 0,2 persen dari tahun sebelumnya 7,9 persen menjadi 7,7 persen. pesona Indonesia saat ini, menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara yang terkuat di ASEAN dan negara yang mampu bertahan dari terpaan krisis di Eropa.

Pada akhirnya penulis menyimpulkan bahwa Performa impresif ekonomi Indonesia pada saat ini yang ditandai dengan bertahannya pertumbuhan ekonomi nasional ditengah ancaman krisis global serta adanya pengakuan dari berbagai kalangan baik dari dalam negeri maupun dunia internasional, menunjukan bahwa prestasi saat ini, merupakan pencapaian paling gemilang pemerintahan Presiden SBY

Ferry Ferdiansyah
Penulis merupakan Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Mercubuana Jakarta Program Studi Magister Komunikasi

 Komentar

 Terbaru

News25 September 2022 13:29
Satpolair Polres Bontang Amankan Pria Asal Barru Serta 30 Kg Daging Penyu
BONTANG – Aparat Satpolair Polres Bontang menangkap pelaku perburuan penyu dilindungi berinisial R (50), Jumat (23/9/2022). Dari tangan pria asa...
News25 September 2022 13:17
Tokoh Agama Papua: Proses Hukum Lukas Enembe Berjalan Adil
PAPUA – Tokoh Agama Papua, Pendeta Alberth Yoku menghimbau agar KPK dapat menggunakan berbagai metode terkait proses hukum Lukas Enembe. Tujuannya u...
Ekonomi & Bisnis25 September 2022 13:05
EventFold.com Bergerak Dibidang E-Ticketing Baru Rilis 2022
MAKASSAR – EventFold.com merupakan website yang baru dirilis pada tahun 2022 dibawah naungan PT. EVENTFOLD MINDSET DIGITAL yang bergerak dalam b...
News24 September 2022 11:24
Kasus Video Viral Aipda S, Kapolres Pinrang Meminta Maaf
PINRANG – Kapolres Pinrang AKBP Roni Mustofa mengklarifikasi terkait dugaan pelanggaran oknum polisi Aipda S yang videonya viral di media sosial...