Logo Lintasterkini

Ini Dia Mitos Seputar Penyakit Jantung

Muh Syukri
Muh Syukri

Rabu, 19 Februari 2020 08:18

ilustrasi. INT
ilustrasi. INT

JAKARTA – Baru-baru ini suami Bunga Citra Lestari (BCL), Ashraf Sinclair mengembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit MMC, Jakarta Selatan. Sangat mengejutkan, pria berusia 40 tahun tersebut meninggal dunia disebabkan oleh serangan jantung.

Banyak pihak yang seakan tidak percaya dengan kejadian itu, mengingat Ashraf tidak pernah terdengar mengeluhkan sakit jantung. Seperti diketahui, penyakit jantung menjadi pembunuh nomor satu dunia. Penyakit jantung bisa merenggut nyawa penderitanya secara mendadak.

Untuk diketahui, faktor genetik dan pola hidup tidak sehat bisa menjadi faktor risiko seseorang mengalami penyakit jantung. Merangkum dari Health Harvard yang dikutip dari majalahayah.com, Selasa (18/2/2020), berikut mitos seputar penyakit jantung.

1. Penderita tak boleh beraktivitas
Terlalu banyak diam dan tidak aktif ternyata adalah solusi buruk bagi seorang penderita jantung. Hal tersebut dapat menyebabkan pembekuan darah di kaki dan penurunan kondisi secara fisik dan keseluruhan.

Aktivitas fisik dapat memperkuat otot jantung, meningkatkan aliran darah ke otak dan organ-organ internal.

2. Obat kolesterol jadi solusi
Kolesterol dalam aliran darah berasal dari dua sumber, yakni hati dan dari makanan tertentu. Statin mengurangi jumlah kolesterol yang dibuat oleh hati. Proses ini menyebabkan kadar kolesterol dalam darah turun, yang akan mengurangi jumlah kolesterol yang tersimpan di arteri.

Jika seseorang mengonsumsi obat dan terus mengonsumsi makanan yang tinggi kolesterol plus lemak jenuh, obat ini tidak akan bekerja dengan efektif. Sehingga, kadar kolesterol Anda tidak akan turun bahkan mungkin naik.

3. Usia tua, wajar tekanan darah tinggi
Tekanan darah cenderung meningkat dengan bertambahnya usia, tetapi fakta ini terjadi karena dinding arteri menjadi kaku seiring bertambahnya usia. Arteri yang kaku memaksa jantung untuk memompa lebih keras. Detak darah di dinding arteri juga merusaknya seiring waktu.

Otot jantung yang bekerja terlalu keras menjadi kurang efektif dan memompa lebih keras untuk memenuhi kebutuhan tubuh akan darah. Kondisi ini merusak arteri dan mengundang lemak ke dinding arteri. Alhasil tekanan darah tinggi meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke.

4. Vitamin dan suplemen turunkan risiko penyakit jantung
Faktor antioksidan vitamin E, C, dan beta karoten menjadi penurun risiko penyakit jantung. Namun, uji klinis suplemen dengan vitamin ini gagal mengonfirmasi manfaatnya sehingga tidak ada kesimpulan yang bisa diambil.

American Heart Association telah menyatakan bahwa tidak ada bukti ilmiah untuk membenarkan penggunaan vitamin ini untuk mencegah atau mengobati penyakit kardiovaskular. (*)

Penulis : Supri

 Komentar

 Terbaru

Ekonomi & Bisnis17 Februari 2026 17:51
Perkuat Ekosistem Halal, PESyar 2026 Gelar Pelatihan dan Uji Kompetensi Juleha bagi Pelaku Usaha di Sulsel
MAKASSAR – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan (KPw BI Sulsel) bersinergi dengan Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) UIN Alaudd...
News17 Februari 2026 17:41
Konsisten Gelar Donor Darah, GMTD Perkuat Implementasi Pilar Tangguh Dalam ‘Lippo untuk Indonesia Pasti’
MAKASSAR – Menjelang bulan Ramadhan, PT Gowa Makassar Tourism Development Tbk (GMTD) kembali menegaskan komitmennya terhadap kesehatan masyaraka...
Ekonomi & Bisnis16 Februari 2026 20:16
Sambut Ramadan, Phinisi Hospitality Indonesia Group Bersih-Bersih Masjid 
MAKASSAR – Dalam rangka menyambut datangnya bulan suci Ramadan, Phinisi Hospitality Indonesia Group melaksanakan kegiatan Corporate Social Respo...
Ekonomi & Bisnis16 Februari 2026 20:06
SATSPAM+ dari IM3 Hadirkan Perlindungan WhatsApp Call Pertama di Indonesia untuk Amankan Pejuang Ramadan
JAKARTA – Ramadan selalu datang dengan perubahan ritme. Dalam satu hari, aktivitas digital bisa menghadirkan lebih banyak chat, lebih banyak tel...